Gejala PMS

Apa Penyebab PMS Dan Bagaimana Mengatasinya?

Sudah menjadi bagian dari kehidupan seorang wanita untuk mengalami menstruasi. Siklus bulanan ini tidak selamanya mulus. Kadang cukup meresahkan karena adanya PMS (Pre Menstruation Syndrome) atau sindroma pra menstruasi. Yup.. PMS adalah serangkaian gelaja fisik dan emosional yang dihadapi perempuan karena menstruasi.

Meski setiap perempuan normal mengalami menstruasi, namun tidak semuanya menghadapi PMS. Hanya sekitar 5-8 persen perempuan saja yang mengeluhkan PMS. Setiap perempuan dapat saja mengalami gejala yang berbeda-beda, tergantung berbagai faktor.

Penyebab PMS

Sebenarnya sampai saat ini penyebab pasti PMS belum diketahui dengan pasti. Namun banyak ahli percaya bahwa perubahan hormon menjelang menstruasi merupakan penyebabnya. Seminggu sebelum menstruasi, hormon estrogen dan progesteron mengalami penurunan yang drastis. Perubahan kadar hormon yang cepat inilah yang berkaitan dengan berbagai gejala PMS.

Yang menarik, tidak semua wanita mengalami PMS. Ada dugaan, bahwa perempuan yang mengalami PMS adalah perempuan yang sensitif terhadap perubahan hormon dalam dirinya. Beberapa ahli juga percaya bahwa makanan juga berpengaruh.

Saat perempuan mengalami PMS, pada saat itu tengah terjadi ovulasi. Dengan kata lain, wanita tengah dalam masa subur. Pada masa ini, tubuh melepas sel telur dan menyebabkan hormon estrogen dan progesteron kadarnya menurun. Nah, kadar hormon ini yang menurun akan mempengaruhi kadar serotonin.

Serotonin merupakan zat yang dapat mempengaruhi berbagai perasaan (mood), nafsu makan dan pola tidur. Jika level serotonin rendah, maka akan perasaan akan lebih sensitif, mudah marah, sedih dan sulit tidur.

Namun tenang, meski mengganggu, PMS cukup mudah untuk diatasi.

Gejala PMS

Beberapa hari sebelum menstruasi, gejala PMS mulai timbul. Gejala tersebut bisa ringan, namun bisa juga berat. Tiap individu dapat berbeda-beda. Gejala PMS yang sering timbul adalah:

Kram Perut

Kram perut merupakan gejala PMS yang khas. Nyeri ini akan terasa di perut bagian bawah, namun dapat menjalar ke punggung dan paha bagian atas. Karm perut ini dapat ringan atau berat.

Kelelahan

Perubahan hormonal akan membuat penderita PMS cepat merasa lelah. Mood yang memburuk akibat kadar hormon estrogen dan progesteron akan memperparah kelelahan tersebut. Faktor sulit tidur juga berpengarauh.

Jerawat

Jerawat lebih sering timbul pada saat PMS. Seminggu sebelum menstruasi, sekitar 50 persen wanita memiliki peningkatan jerawat. Biasanya, jerawat ini muncul di dagu dan rahang. Jerawat terjadi akibat perubahan hormon selama siklus haid.

Jika sel telur tidak dibuahi, kadar estrogen dan progesteron menurun dengan cepat. Namun androgen dan testosteron meningkat. Peningkatan hormon androgen akan merangsang produksi sebum, yang menyebabkan timbulnya jerawat.

Nyeri Pada Payudara

Beberapa hari menjelang menstruasi, terjadi perubahan pada payudara. Perubahan hormonal menyebabkan kelenjar susu membesar. Akibatnya volume payudara sedikit bertambah dan menimbulkan rasa nyeri. Namun rasa nyeri ini akan membaik setelah terjadi menstruasi.

Gangguan Pencernaan

Selain perubahan hormonal, terjadi pula pelepasan prostaglandin. Zat ini akan menyebabkan terjadinya kontraksi rahim. Namun prostaglandin juga mempengaruhi usus. Hal inilah yang menyebabkan munculnya berbagai masalah pencernaan. Masalah pencernaan pada saat PMS meliputi diare, kembung dan mual.

Sakit Kepala

Penurunan kadar estrogen dapat menyebabkan kadar serotonin di otak juga menurun. Kadar serotonin yang rendah menyebabkana pembuluh darah di otak menyempit. Hal ini dapat memicu terjadinya sakit kepala dan migrain. Lebih dari 50% wanita akan merasakan sakit kepala atau migrain sebelum, selama, atau segera setelah haid.

Sakit Pinggang

Kontraksi uterus dan perut yang dipicu oleh pelepasan prostaglandin juga dapat menyebabkan kontraksi otot pinggang. Rasa nyeri dan tertarik bisa terjadi akibat kontraksi otot pinggang.

Masalah Tidur Dan Perubahan Mood

Pada saat PMS, wanita akan lebh mudah tersinggung. Mood akan berubah dengan cepat. Rasa lelah dan berbbagai gangguan ini akan memperburuk mood, yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas tidur.

Obat Mengatasi PMS

Sebagian besar gejala PMS akan hilang begitu proses menstruasi terjadi atau selesai. Namun yang paling sering menjadi keluhan adalah rasa nyeri, baik nyeri kepala maupun otot. Beberapa jenis obat dapat digunakan untuk mengatasi keluhan ini.

Untuk mengatasi rasa nyeri, dapat digunakan obat anti inflamasi non steroid (AINS). Obat ini dapat diperoleh di apotek. Jenis AINS yang sering digunakan untuk mengatasi PMS adalah Parasetamol (Sanmol, Pamol, Dumin).

Parasetamol merupakan obat yang cukup aman di lambung dan dapat diperoleh secara bebas. bat ini sangat efektif untuk menurunkan suhu tubuh. Namun sebagai analgesik, parasetamol dapat mengurangi rasa nyeri ringan.

Asam mefenamat (Ponstan, Mefinal, Mefix) merupakan pilihan obat lain untuk mengatasi rasa nyeri yang lebih berat. Obat ini mempunyai efek samping berupa menimbulkan gangguan pencernaan, lebih sering dibanding parasetamol. Namun kemampuannya mengatasi nyeri lebih baik.

Selain rasa nyeri, wanita yang mengalami PMS juga merasakan kram perut maupun otot tertarik di bagian pinggang. Relaksan otot dapat digunakan untuk mengatasi hal ini. Obat relaksan otot yang digunakan adalah Eperisone (Forres, Epsonal, Myonal) dan Hyoscine N-Butilbromida (Buscopan).

Selain obat tersebut, juga terdapat obat kombinasi dalam satu sediaan seperti kombinasi Hyoscine N-Butilbromida dan Parasetamol (Gitas Plus, Buscopan Plus). Kombinasi ini mempunyai khasiat mengurangi kram otot sekaligus meringankan nyeri.

Nah, pada para wanita, obat-obat tersebut sebaiknya selalu disediakan untuk sewaktu-waktu dapat digunakan meredakan gejala PMS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *