Hipertensi Pada Kehamilan, Apa Resikonya?

Ketika hamil, beberapa wanita memiliki tekanan darah yang tinggi atau hipertensi. Keadaan ini dapat menimbulkan berbagai masalah, baik saat hamil maupun dalam melahirkan nanti. Kabar baiknya, tekanan darah dapat terus dikontrol selama kehamilan sehingga diharapkan meminimalkan resiko.

Sebenarnya, tekanan darah tinggi atau hipertensi dalam kehamilan merupakan hal yang cukup sering terjadi. Berbagai masalah dapat ditimbulkan karena keadaan ini. Namun dengan keterbukaan selama konsultasi dengan tenaga medis, dapat dilakukan pengendalian tekanan darah, meski saat hamil. Hal ini dapat tetap menjaga ibu hamil dan janin tetap sehat.

Jenis Hipertensi Pada Kehamilan

Hipertensi pada kehamilan merupakan hal yang cukup umum. Bahkan kadang hipertensi ini terjadi sebelumnya, namun baru terdeteksi pada saat hamil.

Terdapat 3 jenis hipertensi pada saat hamil, yaitu hipertensi gestasional, hipertensi kronis, Hipertensi kronis dengan superimposed preeklampsia, preeklamsia dan eklamsia. Apa perbedaan ketiganya?

Hipertensi gestasional

Hipertensi ini terjadi pada wanita saat hamil pada usia kehamilan 20 minggu. Hipertensi gestasional mempengaruhi 6-8 persen wanita hamil. Kabar baiknya, tekanan daarah akan kembali normal, kira-kira 6 minggu setelah melahirkan.

Pada hipertensi gestasional, tidak ditemukan kelebihan protein atau tanda-tanda lain kerusakan organ. Namun beberapa ibu hamil yang mengalami hipertensi ini beresiko mengalami preeklamsia. Sedangkan pada janin, hipertensi gestasional dapat menyebabkan plasenta janin tidak cukup mengalirkan darah sehingga janin kekurangan oksigen.

Hipertensi kronis

Hipertensi ini terjadi sebelum hamil dan berlanjut sampai saat kehamilan. Dan hipertensi ini sering tidak disadari hingga tiba saat hamil. Berbeda dengan hipertensi gestasional, hipertensi kronis tidak hilang paska melahirkan.

Hipertensi kronis dengan superimposed preeklampsia

Hal ini terjadi jika wanita hamil dengan hipertensi kronis namun disertai dengan tingginya kadar protein dalam urin, atau adanya komplikasi lain terkait dengan hipertensi tersebut. Namun gejala tersebut terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu.

Preeklampsia

Jika hipertensi gestasional dan kronis tidak ditangani dengan baik, maka dapat terjadi preeklampsia. Preeklampsia adalah keracunan kehamilan karena adanya gangguan tekanan darah yang menyebabkan gangguan pada kinerja organ.

Tanda preklampsia yang utama adalah tekanan darah tinggi dan proteinuria. Selain itu juga terdapat gejala lain seperti:

  • Pembengkakan pada wajah atau tangan
  • Nyeri pada perut bagian atas atau bahu
  • Sakit kepala yang sulit hilang
  • Mual dan muntah
  • Kenaikan berat badan tiba-tiba
  • Kesulitan bernapas
  • Terganggunya penglihatan

Penyebab preeklampsia tidak diketahui dengan pasti. Namun ada dugaan hal ini disebabkan adanya gangguan pada pertumbuhan plasenta yang menyebabkan aliran darah pada plasenta tidak berjalan dengan lancar.

Selain dapat membahayakan janin, ibu hamil juga mempunyai resiko yang sama. Sebab preeklampsia dapat memengaruhi kesehatan organ, seperti hati, ginjal, paru-paru, mata dan otak ibu. Preeklampsia dapat berkembang menjadi eklampsia.

Eklampsia

Jika preeklampsia tidak teratasi, maka dapat berkembang menjadi eklampsia. Ini merupakan keadaan yang serius. Tekanan darah tinggi yang terjadi dapat mempengaruhi otak dan menyebabkan kejang atau koma dalam kehamilan.

Eklampsia dapat berdampak serius dan berakibat fatal bagi ibu dan janin dalam kandungan. Pada janin, terganggunya fungsi plasenta dapat mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan rendah, adanya berbagai gangguan kesehatan pada bayi dan bayi lahir meninggal meskipun hal ini jarang terjadi.

Resiko Komplikasi Hipertensi Pada Kehamilan

Selain berbagai resiko yang telah disebutkan di atas, terdapat beberapa komplikasi yang mungkin muncul akibat hipertensi pada kehamilan ini. Tekanan pada jantung dan ginjal meningkat pada saat terjadi hipertensi. Resiko terjadinya serangan jantung, kerusakan ginjal dan stroke akan meningkat. Selain itu, beberpa komplikasi dapat terjadi, yaitu:

Pertumbuhan janin terhambat

Tekanan darah tinggi menurunkan suplai nutrisi dari ibu hamil ke janin melalui plasenta. Janin akan kekurangan suplai oksigen dan nurtrisi sekaligus. Karenanya, pertumbuhan janin akan terhambat. Kondisi ini disebut dengan Intra Uterine Growth Restriction atau IUGR dan berujung pada berat lahir bayi yang rendah.

Abrupsi plasental

Abrupsi plasental adalah terlepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum terjadi persalinan. Resiko ini meningkat dengan adanya hipertensi pada kehamilan. Abrupsi dapat membayakan ibu hamil dan janin.

Kelahiran prematur

Saat hipertensi yang terjadi diperkirakan beresiko fatal, maka dengan pertimbangan medis, janin dapat dilahirkan secara prematur. Namun kelahiran prematur ini mempunyai komplikasi masalah kesehatan nantinya.

Perlu dipahami, keputusan untuk melahirkan janin secara prematur bertujuan untuk melindungi kesehatan janin dan ibunya akibat adanya hipertensi selama kehamilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *